Selasa, 17 Juni 2014

ILMU KALAM



Al-ASY'ARI


Berbicara tentang Ulama Kalam Ahlussunnah Waljama'ah, tak terlepas dari nama besar tokoh pendirinya. Dialah al-Asy'ari disamping juga al-Maturidi. Mengingat dia sebagai tokoh pendiri (mu'assis), maka berbicara tentang biografi dan garis besar pemikan kalamnya, terasa kurang utuh jika tidak dilengkapi dengan latar belakang dicetuskannya aliran yang didirikan, perkembangannya, dan corak pemikiran kalamnya.

Oleh karena itu, maka biografi dan garis besar pemikiran kalam al-Asy'ari tersebut perlu dipelajari dengan kerangka:

a. Biografi;

b. Dicetuskannya aliran kalam Sunni;

c. Perkembangan aliran kalam al-Asy'ariyah;

d. Corak pemikiran kalam al-Asy'ari, dan materi;

e. Pemikiran kalam al-Asy'ari.


Dengan kerangka pembicaraan yang demikian, maka akan memberikan kepahaman yang lebih jelas dan utuh tentang biografi serta ketokohan al-Asy'ari dibidang kalam.


A. BIOGRAFI

Biografi al-Asy'ari, dapat ditelusuri dari nama dan geneologinya, tempat dan masa hidup, serta guru dan murid muridnya.


1. Nama dan Geneologi

Nama lengkap tokoh yang satu ini, secara otentik dapat dibaca dalam salah satu karyanya yang berjudul: Al-Ibanah 'an Usul al-Diyanah. Pada halaman pertamanya tertulis nama lengkapnya: "Abu al-Hasan 'Ali bin Ismail bin Ishaq bin 'Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa al-Asy'ari".

Nama lengkap yang amat panjang ini, kemudian biasa diringkas menjadi "Abu al-Hasan al-Asy'ari". Atau bahkan lebih sering diambil nama nisbatnya saja, yakni "Al-Asy'ari".

Memperhatikan nama lengkapnya yang panjang itu, yang notabene menyebutkan nama nama garis keturunan (geneologi) al-Asy'ari secara urut ke atas; maka tampak dengan jelas bahwa geneologinya bermuara pada seorang sahabat Nabi kenamaan, yakni Abu Musa al-Asy'ari.

Abu Musa al-Asy'ari pada masanya pernah terpilih mewakili kubu Ali bin Abi Thalib dalam sejarah 'tahkim' dengan kubu Mu'awiyah yang diwakili oleh Amr bin al-As.


Geneologi yang demikian, menunjukkan bahwa al-Asy'ari masih tergolong berdarah tokoh ternama. Dan sedikit banyaknya tentu memberi pengaruh tersendiri akan kebesaran namanya.


2. Tempat dan Masa Hidup

Tempat lahir dan hidup al-Asy'ari ialah sebuah kota pusat keramaian dan pusat peradaban Islam kedua setelah Baghdad, yakni Basrah. Maka letak geografis kediamannya ini pun memberikan pengarug yang tidak kecil bagi cepatnya perkembangan aliran kalamnya serta popularitas nama besarnya. Adapun masa hidupnya, al-Asy'ari terlahir pada tahun 260H (873H) dan wafat pada tahun 324H (935H). Berarti dia hidup di dunia selama 64 tahun Qomariyah/hijriyah atau selama 62 tahun Syamsiyah/Masehi.


Masa hidup itu berarti dewasanya al-Asy'ari bertepatan dengan masa pemerintahan akhir al-Makmun dan awal pemerintahan al-Mutawakkil dari Daulah Abasiyah. Hal ini pun memiliki pengaruh yang tidak kecil terhadap eksistensi ketokohan al-Asy'ari. Karena al-Mutawakkil yang memberi penghormatan besar kepada Ahmad bin Hanbal dan membatalkan Mu'tazilah sebagai aliran resmi pemerintah, praktis memberi angin segar terhadap aliran kalam yang dilahirkan oleh al-Asy'ari.


3. Guru dan Murid

Kehidupan al-Asy'ari kecil tidak seberuntung masa kanak-kanak pada umumnya. Karena sejak kecil dia telah ditinggalkan oleh ayah kandungnya, Ismail. Dan ibunya kemudian dipersunting oleh Abu Ali al-Juba'i, seorang tokoh kenamaan aliran kalam Mu'tazilah. Maka dalam pelukan ayah tiri inilah al-Asy'ari dididik dan dibesarkan.

Dalam perkembangan selanjutnya, al-Juba'i yang notabene Mu'tazilah itu tidak hanya berperan sebagai ayah tiri tetapi juga sebagai guru utama al-Asy'ari hingga dewasanya. Bahkan al-Asy'ari yang terlahir sebagai pemuda cerdas dan mahir beradu argumentasi itu pun pada gilirannya menjadi penganut setia Mu'tazilah sekaligus ditokohkan.

Dia tidak hanya dipercaya al-Juba'i untuk mewakilinya dalam banyak hal urusan kemu'tazilahan, melainkan juga tidak sedikit dari umurnya dicurahkan pula untuk menulis buku-buku kemu'tazilahan.

Namun kemudian al-Asy'ari berdiri sendiri dengan aliran kalam yang dicetuskannya sendiri dan menjadi guru bagi banyak orang. Diantara murid-muridnya yang akhirnya menjadi tokoh ternama, tercatat: Abu Ishaq al-Isyfirayani, Abu Bakar al-Qafal, al-Jurjani, Muhammad al-Tabarani al-'Iraqi dan lain lain.


B. DICETUSKANNYA ALIRAN KALAM SUNNI


Pencetusan (pendiriannya) aliran kalam Sunni (kalam Ahlussunnah Waljamaah) oleh al-Asy'ari, tidak lepas dari beberapa hal yang melatarbelakanginya, ditulisnya karya-karya pendukung aliran yang dicetuskan, serta munculnya tokoh-tokoh penganut yang menyebarluaskan aliran kalamnya.


1. Latar Belakang

Menurut keterangan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa ketokohan al-Asy'ari dalam aliran kalam Mu'tazilah ternyata sangat terbatas. Hanya sekitar 40 tahun saja dia berkiprah dibidang kemu'tazilahan. Dan akhirnya berbalik 180 derajat, menolak serta menyerang aliran Mu'tazilah.

Bersamaan dengan itu, al-Asy'ari mencetuskan aliran kalam baru, yakni aliran kalam Sunni (Ahlussunnah Waljamaah) yang kemudian oleh para pengikutnya disebut aliran kalam al Asy'ariyah.

Adapun berbagai hal yang melatarbelakangi dicetuskannya aliran kalam Sunni itu, para ulama memberikan keterang yang relatif berbeda antara yang satu dengan yamg lain diantaranya:

a. Ahmad Amin

Dalam bukunya: Zuhr al-Islam, dia menerangkan bahwa latar belakang keluarnya al-Asy'ari dan Mu'tazilah dan mendirikan aliran baru ialah adanya adu argumen antara al-Asy'ari dengan gurunya al-Juba'i tentang kedudukan anak kecil di akhirat, sampai akhirnya al-Juba'i tidak bisa memberikan argumen.

Dari perdebatan itu, maka al-Asy'ari menjadi ragu terhadap ajaran Mu'tazilah. Kemudian dia melakukan kajian mendalam tentangnya, dan hasil kajiannya yang berupa kajian korektif terhadap ajaran Mu'tazilah itu diproklamirkan di hadapan khalayak.

Adapun proklamasi itu (kurang lebih) berbunyi: "Wahai saudara saudaraku! Selama ini saya, mengurung diri untuk mengkaji keterangan keterangan dan dalil dalil dari banyak golongan. Menurut hasil kajian saya, dalil dalil itu sama kuatnya. Maka saya memohon petunjuk kepada Allah SWT. Dan atas petunjukNya, saya kini menyatakan keluar dari aliran kalam yang selama ini saya ikuti, kemudian mengikuti aliran kalam baru yang telah saya siapkan dalam buku buku ini. Saya lemparkan jauh jauh aliran yang lama, sebagaimana saya lemparkan bajuku ini! (bersamaan dengan mengucapkan kalimat ini, al-Asy'ari betul betul melemparkan bajunya dengan lemparan sekuat tenaga)".


b. Jalal Muhammad Musa

Dalam bukunya Nasy'ah al-Asy'ariyah wa Tatawwuriha, dia menerangkan dari riwayat Ibnu 'Asakir, bahwasannya al-Asy'ari melakukan Shalat Malam dua raka'at selama beberapa malam untuk memohon petunjuk. Dan dalam tidurnya, dia bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. serta mengadukan persoalannya, maka Rasul menjawab: "Hendaklah kamu mengamalkan Sunnahku!".


Semenjak kejadian itu, maka al-Asy'ari kembali berpegang teguh kepada al-Quran dan al-Sunnah. Pemikiran pemikiran kalam yang tidak sesuai dengan keduanya, dia hindarkan jauh-jauh.


c. Ahmad Mahmud Subki

Sebagaimana disebutkan Harun Nasution dalam bukunya "Teologi Islam", Ahmad Mahmud Subki menerangkan tentang keraguan al-Asy'ari itu timbul karena dia menganut madzhab Syafi'i dibidang fiqih. Padahal al-Syafi'i pun banyak mengemukakan pendapatnya yang bersifat kalam (teologis) yang bertentangan dengan kalam Mu'tazilah. Misalnya berpendapat bahwa al-Qur'an bersifat qadim dan ru'yah (melihat Tuhan) di akhirat bakal terjadi benar benar.


d. Ahmad Hanafi

Dalam bukunya Pengantar Teologi Islam Ahmad Hanafi menerangkan bahwa sebab utama keluarnya al-Asy'ari dari paham Mu'tazilah ialah karena mengkhawatirkan semakin pecahnya persatuan Islam oleh munculnya paham Mu'tazilah yang terlalu memuja akal dan menyimpang dari petunjuk al-Quran serta al-Sunnah di satu pihak, dan munculnya sikap ahli hadits anthropomorphisme yang memahami nash secara tekstual dengan meninggalkan jiwa nash itu sendiri. Maka al-Asy'ari mengambil jalan tengah antara golongan rasional (Mu'tazilah) dengan golongan anthropomorphisme itu yang ternyata diterima oleh mayoritas kaum muslimin.


e. Harun Nasution

Dalam bukunya "Teologi Islam", Prof. Dr. Harun Nasution menerangkan bahwa al-Asy'ari keluar dari Mu'tazilah karena melihat perpecahan dikalangan Mu'tazilah sendiri serta dibatalkannya putusan Khalifah al-Makmun oleh al-Mutawakkil tentang diterimanya aliran Mu'tazilah sebagai aliran resmi negara. Maka al-Asy'ari menyusun aliran kalam tersendiri yang tetap mempedomani al-Quran dan al-Sunnah.


Berdasarkan keterangan para ulama tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa al-Asy'ari mencetuskan aliran kalam Sunni demi mengembalikan umat kepada petunjuk al-Quran dan al-Sunnah yang memang dipedomani oleh mayoritas umat Islam kala itu. Selain itu, berarti dia memandang bahwa kaum Mu'tazilah dan ahli hadits anthropomorphis sebagai sekte-sekte baru yang menyimpang dari spirit Islam.


Perlu dikemukakan disini, bahwa adu argumen al-Asy'ari dengan al-Juba'i yang dikemukakan Ahmad Amin tentang Kedudukan anak kecil di akhirat, dalam bukunya Zuhr al-Islam halaman 67, (kurang lebih) sebagai berikut :


Al-Asy'ari : " Bagaimana pendapat guru tentang nasib orang kafir, dan bayi, kelak pada hari kiamat?"


Al-Juba'i : " Orang mukmin adalah orang beruntung, orang kafir adalah celaka, dan bayi termasuk golongan yang selamat ".


Al-Asy'ari : " Mungkinkah bayi masuk golongan beruntung?"


Al-Juba'i : " Tidak! Sebab kelak akan dikatakan kepada bayi, bahwa simukmin beruntung karena ketaatannya, sedangkan bayi belum bertaat".


Al-Asy'ari : " Sekiranya si bayi menjawab bahwa kematiannya sejak bayi bukan karena kesalahan dirinya, sebab jika Allah memberikan umur panjang hingga dewasa, dia juga akan bertaat (beribadah) seperti orang orang mukmin?"


Al-Juba'i : " Allah nanti akan berfirman kepada si bayi: Aku tahu jika kamu berumur panjang akan berbuat dosa dan harus disiksa. Maka demi kemaslahatanmu, Kumatikan kamu sebelum dewasa!"


Al-Asy'ari : " Kalau si kafir menggugat seraya mengadu: Ya Tuhan, Engkau mengetahui keberadaanku seperti bayi itu, mengapa Engkau tidak menjaga kemaslahatanku sehingga aku berumur panjang serta berbuat dosa hingga kini disiksa?"


Dengan pertanyaan itu, al-Juba'i terdiam. Ini menunjukkan kesalahan ajarannya (ajaran Mu'tazilah) yang menyatakan bahwa Tuhan wajib berbuat baik, bahkan terbaik bagi manusia (wajib memberi maslahat kepada manusia). Sementara menurut ajaran al-Asy'ari, tidak wajib.


Berkenaan dengan doktrin Mu'tazilah yang menyatakan Tuhan tidak memiliki sifat, ada di antara murid al-Juba'i yang bertanya: " Guru, bolehkah Allah disebut 'Aqil (berakal)' ?"


Al-Juba'i : "Tidak. Sebab kata (aql) berasal dari kata (iql) yang berarti penghalang. Padahal Allah mustahil berpenghalang".


Al-Asy'ari menyahut : " Berdasarkan kias guru itu, berarti Allah juga tidak boleh disebut 'Hakim (bijaksana)'? Sebab, kata 'hakim' itu berasal dari kata 'hikmah al-lijam (besi kekang binatang)'?"


Al-Juba'i : diam tidak menjawab


Al-Asy'ari : "Jadi bagaimana pendapat guru?", desaknya.


Al-Juba'i : " Saya setuju Allah disebut Hakim, karena saya mengambil nama-nama Allah itu berdasarkan keterangan Syara', bukan berdasarkan kias. Maka saya tidak setuju Dia disebut Aqil karena Syara, melarangnya".


Sementara itu, banyak pula keterangan yang menyatakan bahwa al-Asy'ari ketika keraguannya terhadap ajaran Mu'tazilah sampai pada titik klimaks, maka dia mengasingkan diri selama 15 hari untuk bertafakkur dan memohon petunjuk Allah. Disamping juga mengkaji ulang ajaran Mu'tazilah itu dengan konsentrasi penuh.



2. Karya-karya al-Asy'ari


Sebagai pendukung aliran baru (Sunni) yang dicetuskannya, al-Asy'ari banyak menulis pemikiran-pemikiran kalamnya itu dalam berbagai kitab karyanya. Menurut beberapa sumber menyatakan, bahwa karya al-Asy'ari itu tidak kurang dari 90 judul kitab. Isinya sebagian besar menyangkut pemikiran kalamnya yang berpaham Sunni sekaligus merupakan penolakan terhadap berbagai aliran yang tidak sepaham.

Al-Asy'ari dengan tegas menolak paham materialis di satu pihak dan paham anthropomorphis di pihak lain; menolak paham Khwarij di satu sisi dan di sisi yang lain juga menolak paham Syi'ah. Di sisi yang lain lagi, dia menolak paham al-Juba'i, al-Allaf, dan sejenisnya serta pikiran filosofis yang berlebihan termasuk pikiran Aristoteles.


Diantara sekian judul karya al-Asy'ari yang sampai kepada kita ialah :

a. Al-Ibanah 'an Usul al-Diyanah

Dalam kitab ini, al-Asy'ari memaparkan berbagai hal pokok keagamaan yang didasarkan pada pemikiran kalamnya dan kemudian menjadi acuan bagi kaum Sunni.


b. Al-Luma'

Kitab ini lebih menyoroti argumen argumen lawan atau aliran kalam yang dianggapnya tidak benar, dan memberikan dalil dalil naql (al-Quran dan al-Sunnah) serta argumen akal yang relevan.


c. Maqalat al-Islamiyin wa Ikhtilaf al-Mutakallimin

Pokok-pokok kitab ini menguraikan tentang bermacam macam golongan Islam beserta pendapat masing masing dan lebih merupakan kajian comparative (perbandingan). Sehingga terlihat jelas di posisi mana kelompok Ahlussunah Waljamaah berada.


Itulah ketiga karya monumental al-Asy'ari yang kemudian banyak dijadikan sebagai sumber rujukan bagi kaum Sunni.



3. Para Tokoh Pengikut


Umat Islam yang pada dasarnya mayoritas berpaham Ahlussunnah Waljamaah (Sunni), maka dengan dicetuskannya kalam Sunni oleh al-Asy'ari, mereka praktis menerimanya dengan senang hati. Dan tidaklah aneh jika aliran kalam yang kemudian sering disebut aliran al-Asy'ariyah itu segera menyebar ke berbagai penjuru.

Hal itu terbukti dengan munculnya tokoh-tokoh besar di berbagai penjuru yang giat menyebarluaskan aliran al-Asy'ariyah. Seperti tercatat nama besar al-Ghazali di Tus (Khurasan), al-Juwaini di Nisapur (Khurasan), dan al-Baqillani yang lahir di Basrah namun banyak berdomisili di Baghdad (Selanjutnya, ketiga tokoh pengikut al-Asy'ari ini akan dibicarakan dalam Bab-bab tersendiri).


C. PERKEMBANGAN ALIRAN KALAM AL ASY'ARIYAH


Selain dukungan para murid dan tokoh pengikut, pesatnya perkembangan aliran kalam al-Asy'ariyah tidak lepas dari dukungan umat, dukungan politik dalam negeri, dan juga politisi serta para Ulama Asy'ariyah yang giat menyebarluaskan pemikiran kalamnya.


1. Dukungan Umat

Umat Islam kala itu, tampak antusias menerima aliran kalam al-Asy'ariyah yang disebut-sebut sebagai aliran kalam Ahlussunnah Waljamaah, karena ajarannya tetap mengikuti petunjuk naql (al-Quran dan al-Hadits). Akal justru digunakan sebatas untuk memahami petunjuk naql, bukan memuja keberadaan akal atau sebaliknya.

Sehingga wajarlah bila aliran kalam yang dicetuskan al-Asy'ari cepat berkembang dengan pesat. Mulai dari Andalusi (Spanyol) di Barat sampai di India di Timur, bahkan sampai ke Asia Tenggara termasuk Indonesia, menerima aliran tersebut dengan tangan terbuka.


Ditanah Air kita, bahkan sampai kini masih sangat terasa Mayoritas umat Islam di negeri kita, terasa lebih terwarnai oleh pemikiran kalam al-Asy'ariyah, meski telah disusupi nuansa-nuansa sufistik oleh para penyebarnya. Sikap sebagian masyarakatnya yang cenderung pasrah (fatalisme) dan banyak beredarnya kitab-kitab karya Asy'ariyah (para ulama pengikut al-Asy'ari), adalah bukti nyata yang relatif tak terbantahkan.

Kitab-kitab dimaksud, antara lain: ihya 'Ulum al-Din dan al-Munqiz min al-Dalal karya al-Ghazali, Umm al-Barahin karya al-Sanusiyah atau disebut juga Risalah al-Sanusiyah, dan kitab-kitab sejenisnya.


Selain itu, doktrin kalam Asy'ariyah, seperti yang kita kenal dengan "Sifat 20" atau "Aqa'id 50"; pun banyak dibelajarkan, baik di lembaga lembaga pendidikan formal, non formal maupun informal.

Itulah bukti berkembangluasnya aliran kalam al-Asy'ariyah yang benar-benar mendapat dukungan positif dari umat Islam mayoritas, tak terkecuali umat Islam mayoritas di Tanah Air kita.


2. Dukungan Politik Dalam Negeri


Dukungan politik dalam negeri dimana al-Asy'ari berdomisili, memang mengalami pasang-surut. Namun secara umum dapat dikatakan sangat berperan dalam ikut serta mengembangkan ajaran al-Asy'ari.


Pada awal dicetuskannya aliran al-Asy'ariyah, secara kebetulan tampuk pemerintahan yang dikendalikan oleh al-Mutawakkil (pengganti al-Makmun) secara resmi negara. Sebaliknya, dia memberi penghormatan kepada Ahmad bin Hanbal. Maka secara tidak langsung, aliran al-Asy'ariyah mendapat angin segar untuk tumbuh dan berkembang.

Namun pada masa pemerintahan dikuasai oleh Sultan Tugril dari Bani Saljuk, dengan al-Kunduri sebagai perdana menterinya yang beraliran Mu'tazilah; politik dalam negeri praktis sangat tidak mendukung perkembangan aliran al-Asy'ariyah. Sebaliknya, justru banyak melakukan kekejaman terhadap para tokoh Asy'ariyah.

Atas usulan al-Kunduri, Sultan Tugril memberi perintah resmi untuk menangkap para pemuka aliran al-Asy'ariyah. Diantara mereka yang berhasil ditangkap dan dipenjarakan, tercatat nama Abu Qasim al-Qusyairi dan al-Haramain. Dan tidak sedikit dari mereka yang melarikan diri ke Hijaz.

 

 

 

 

facebook : Saeful Huna

twitter : Saeful Huna/@Ipunk_Sasaqi

youtube : Saeful Huna

Biografi Saeful Huna




Nama Saya adalah Saeful Huna, saya adalah seorang putra pertama dari pasangan suami-isrtri Sahabudin dan Murni. Nama panggilan saya setiap hari/dirumah adalah Una (Huna). Tapi ada juga sih yg manggil dengan Nama depan saya atau Saeful.

Saya lahir disebuah desa, yaitu di desa Langko Kec. Lingsar Kab. Lombok Barat Prov. NTB pada 14 October 1995.

Saya mempunyai seorang saudara (adik) perempuan, ini adalah adik saya satu-satunya. Nama adik saya ini adalah Handa Liana Ulfa.

Pendidikan pertama saya SD/MI pada tahun 2001 dan selesai tahun 2007 di MIN DUMAN yg bertempat di desa langko kecamatan lingsar kabupaten Lombok barat. Kemudian masuk pendidikan selanjutnya atau SMP/MTs pada tahun 2007 dan selesai pada tahun 2010 di MTs ASSULLAMY LANGKO. Kemudian melanjutkan pendidikan selanjutnya, di pendidikan SMA/MA yaitu di MA ASSULLAMY LANGKO mulai pada tahun 2010 dan selesai pada tahun 2013.

Kemudian setelah saya menyelesaikan pendidikan yg sudah disebutkan diatas, saya melanjutkan jenjang pendidikan yg lebih tinggi lagi (kuliah). Dan saat ini, saya sedang duduk di bangku kuliah. Saya kuliah di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Mataram. Saya mengambil jurusan atau program studi KPI (Komunikasi & Penyiaran Islam).

Nama                    : Saeful Huna

TTL                         : Langko, 14 Oktober 1995

Jenis kelamin     : Laki-laki

Agama                  : Islam

Gol. Darah           : -

Alamat                  : Jln. Darma Bhakti Desa Langko Kec. Lingsar Kab. Lombok Barat

Telephone          : +6281907405151

E_mail                   : Saeful.hun@gmail.com

Pendidikan

                SD/MI                   : MIN DUMAN (Desa LANGKO Kec. Lingsar Kab. Lombok Barat)

                SMP/MTs            : MTs ASSULLAMY LANGKO

                SMA/MA             : MA ASSULLAMY LANGKO

                                                : IAIN MATARAM



huna1995.blogspot.com
facebook      : Saeful Huna ID
twitter          : Saeful Huna
youtobe       : Saeful Huna

Komunikasi Massa-Pengertian


KOMUNIKASI MASSA : DEFINISI, KARAKTERISTIK DAN FUNGSI
Definisi :KOMUNIKASI MASSA ADALAH SUATU PROSES MELALUI MANA KOMUNIKATOR-KOMUNIKATOR MENGGUNAKAN MEDIA UNTUK MENYEBARLUASKAN PESAN-PESAN SECARA LUAS DAN TERUS MENERUS MENCIPTAKAN MAKNA-MAKNA SERTA DIHARAPKAN DAPAT MEMPENGARUHI KHALAYAK YANG BESAR DAN BERAGAM DENGAN MELALUI BERBAGAI CARA.(DeFleur & McQuail, 1985, McQuail, 2000).
Komunikasi massa adalah proses dimana organisasi media membuat dan menyebarkan pesan kepada khalayak banyak (publik).[1]Organisasi - organisasi media ini akan menyebarluaskan pesan-pesan yang akan memengaruhi dan mencerminkan kebudayaan suatu masyarakat, lalu informasi ini akan mereka hadirkan serentak pada khalayak luas yang beragam. Hal ini membuat media menjadi bagian dari salah satu institusi yang kuat di masyarakat.Dalam komunikasi masa, media masa menjadi otoritas tunggal yang menyeleksi, memproduksi pesan, dan menyampaikannya pada khalayak.
FOKUS STUDI :MEDIA MASSA MENJADI OBYEK UTAMA STUDI KOMUNIKASI MASSAMEDIA MASSA TIDAK HANYA SEBAGAI SALURAN KOMUNIKASI TETAPI   JUGA DALAM POSISINYA SEBAGAI INSTITUSI:EKONOMI (BISNIS)SOSIAL-BUDAYAPOLITIKKarakteristik KOMUNIKASI MASSA(Konsep Klasik)1.Ditujukan ke khalayak luas, heterogeen, tersebar, anonim serta tidak mengenal batas geografis dan kultural.2.Bersifat umum bukan perorangan.3.Penyampaian pesan berjalan secara cepat dan mampu menjangkau khalayak yang luas dalam waktu yang relatif singkat (messages multiplier)4.Penyampaian pesan cenderung berjalan satu arah5.Kegiatan komunikasi dilakukan secara terencana, terjadwal dan terorganisir.6.Kegiatan komunikasi dilakukan secara berkala tidak bersifat temporer.7.Isi pesan mencakup berbagai aspek kehidupan (sosial, ekonomi, politik, budaya, dll.)Konsepsi Komas Klasik :HANYA MENCAKUP 5 MEDIA MASSA : (THE BIG FIVE OF MASS MEDIA)SURATKABARMAJALAHRADIOTELEVISIFILM IMPLIKASI TEKNOLOGI KOMUNIKASIPerbedaan konseptual, fungsional dan operasional antara Komunikasi Massa dengan Komunikasi Antarpribadi semakin kabur dan menipis.Ada pergeseran konsepsi : dari ONE TO MANY COMMUNICATION menjadi MANY TO MANY COMMUNICATIONS.Fungsi Sosial Media Massa(Lasswell & Wright)1. PENGAWASAN LINGKUNGAN (Social Surveillance)2. KORELASI SOSIAL (Social Correlation)3. SOSIALISASI (Social Transmission)4. HIBURAN (Entertainment)Fungsi Sosial Media Massa(Lazarsfeld & Merton)1. MEMBERIKAN/MENGUKUHKAN STATUS SOSIAL2. MEMPERKOKOH NORMA-NORMA SOSIAL FUNGSI MEDIA MASSA BAGI INDIVIDU(Becker, 1985)
  1. PENGAWASAN ATAU PENCARIAN INFORMASI
  1. PENGEMBANGAN DIRI
  1. FASILITASI DALAM HUBUNGAN SOSIAL
  1. SUBSTITUSI DALAM HUBUNGAN SOSIAL
  1. MEMBANTU MELEGAKAN EMOSI/AFEKSI
  1. SARANA PELARIAN DARI KETEGANGAN  DAN KETERASINGAN
  1. BAGIAN DARI KEHIDUPAN RITUAL RUTIN (RITUALISASI)
DAYA TARIK ISI PESAN MEDIA MASSA    :
  1. Novelty
  1. Jarak (Dekat atau Jauh)
  1. Popularitas
  1. Konflik (Pertentangan)
  1. Komedi (Humor)
  1. Seks dan keindahan
  1. Emosi/Afeksi
  1. Nostalgia
  1. Human Interest
 
twitter : Saeful Huna/@Ipunk_Sasaqi

Pengertian Psikologi

Kamis, 12 Juni 2014

Desa Langko




Etnografi tentang sebuah Desa, yaitu Desa Langko yang tepatnya ada di Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat. Desa Langko ini adalah salah satu desa dari beberapa desa yang  ada di Kecamatan Lingsar. Desa ini memiliki kode pos 83371.
Desa ini memiliki jumlah penduduknya sebagian besar bersuku daerah Sasak. Terletak di bagian barat pulau Lombok.
Desa Langko ini mekar pada tahun 1999 dan di pimpin pertama kali oleh seorang Kepala Desa yaitu Bapak H. Bakri Az. Beliau adalah kepala desa pertama yang memimpin desa Langko. Kemudian kepala desa yang kedua adalah Bpk. H.M. Arjuna yang memerintah selama dua periode (sampai sekarang).
            Desa langko ini berada di tengah-tengah antara desa-desa yang lain. Sebelah utara desa langko terletak satu buah desa yang baru satu tahun sudah mekar yaitu desa Giri Madya, dan di sebelah timur desa langko ada desa Karang Bayan, sebelah selatan terdapat desa Sigerongan, dan yang terakhir sebelah barat yaitu desa Duman.
Dibawah ini adalah foto kantor desa langko.

            Kehidupan setiap hari masyarakat desa Langko yaitu banyak yang  menggantung hidupnya sebagai Kusir Delman dan Petani. Di desa langko ini juga terdapat pasar Delapan Sembilan, yaitu pasar yang beroperasi sampai jam delapan/Sembilan. Pada saat jam Sembilan, kalau kita datang ke pasar ini maka hanya tinggal dua atau tiga pedagang saja yang akan kita temukan.
Dibawah ini adalah salah satu kusir delman (cidomo).


            Dibawah ini adalah foto pasar tradisional yang ada di Desa Langko.

            Pasar tersebut tepat berada di depan pintu gerbang  Masjid yang ada di desa Langko.
Masyarakat di desa ini hanya menganut satu agama saja, yaitu masyarakatnya menganut agama Islam.
Dibawah ini adalah foto masjid yg berada di desa langko. 

Pendidikan di Desa Langko bisa dibilang sangat baik, karena dari pendidikan tingkat yang paling rendah hingga Perguruan Tinggi ada. Di desa langko terdapat dua Pendidikan Anak Usia Dini atau TK, yaitu PAUD Assullamy dan PAUD Nurul Hikmah. Kemudian terdapat tiga pendidikan tingkat dasar, dua SD dan satu MI, yaitu SDN 1 Langko, SD Islam Nurul Hikmah dan MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri) Duman.
Kemudian ada dua pendidikan yang tingkat menengah pertama, yaitu MTs Assullamy Langko dan SMP Islam Nurul Hikmah. Dan terdapat tiga pendidikan menengah tingkat atas, yaitu MA Assullamy, SMK Assullamy dan SMK Islam Nurul Hikmah.
Kemudian terdapat juga satu perguruan tinggi yang bernaung di bawah Yayasan Pondok Pesantren Assullamy Langko, yaitu Universitas Terbuka yang mulai di buka pada tahun 2011.



Dibawah ini adalah foto salah satu sekolah tingkat dasar yang ada di desa langko, yaitu Madrasah Ibtidaiyah Negeri Duman.






Di atas adalah sedikit informasi dari beberapa informasi yang ada di Desa Langko. Jadi  nilai yang bisa kita ambil dari penjelasan di atas adalah, tentang penidikannya. Walaupun sebuah desa yang terletak di bawah pegunungan, mampu menjadi penyelenggara pendidikan. Sebagai informasi tambahan, Desa Langko ini dalam bidang pendidikannya berada di peringkat kedua tingkat kecamatan. Kemudian di tingkat Kabupaten berada pada peringkat ke-lima.








facebook: Saeful Huna ID
twitter: Saeful Huna/@ipunk_sasaqi

Senin, 09 Juni 2014

Entologi (Catatan Antropolog)



TUGAS ANTROPOLOGI

Etnografi  tentang penyanyi panggung ke panggung atau yang lebih dikenal dengan bahasa masyarakat pedesaan yaitu, Orkes Keliling. Di mana Orkes Keliling tersebut adalah para penyanyi yang diiringi oleh para anggotanya atau mungkin yang lebih dikenal oleh masyarakat kota yaitu Grup Band. Salah satu contoh yaitu Grup Orkes Melayu Gema Irama yang salah satu Vokalisnya berasal dari Pagesangan BTN Pepabri yang memilki nama panggung yaitu, Rini Daratista atau akrab dipanggil Rini.

Rini adalah seorang penyanyi yang berkiprah selama 12 tahun terakhir ini ternyata meimiliki alasan tersendiri mengapa ia lebih memilih menjadi penyanyi Grup Orkes atau penyanyi panggung ke panggung. Karena Gadis Sarjana Ekonomi ini lebih senang menghibur masyarakat luas ketimbang harus duduk di atas kursi kantornya. “saya lebih menikmati pekerjaan saya saat ini daripada saya harus bekerja di kantor, karena saya lebih dahulu menyanyi ketimbang bekerja. Dan dari SMA saya sudah menyanyi, ya terlebih karena hobi lah” ujar gadis cantik ini.

Namun perjuangan menjual nama kepada masyarakat luas sangat berat yang telah dilalui oleh Rini dan anggota Grup Orkes Melayu lainnya, karena pada dasarnya mencari popularitas tidak semudah membalikkan telapak tangan. Yang di mana sebelum memiliki nama yang telah akrab di telingaa penggemarnya Grup Orkes Melayu Gema Irama meimiliki pesaing yang jauh lebih dekat dikenal oleh masyarakat luas, namun berkat perjuangan, usaha dan kerja keras pada tahun 2005 Grup Orkes Melayu Gema Irama telah direkrut oleh Walikota hingga menjadi setara bahkan lebih dari pesaing-pesaing mereka sebelumnya.

Grup Orkes Melayu Gema Irama ini memiliki banyak penggemar baik dari kalangan Anak-anak Remaja hingga Dewasa, namun perjuangan Grup Orkes Mealayu ini tidak sampai di sini saja tetapi Grup Orkes ini harus mampu membuat para penggemarnya atau penontonnya tetap bahkan mampu lebih lagi menyukai Grup mereka dari sebelumnya. 




“kericuhan saat Orkes berlangsung sering terjadi, pada saat itu kami termasuk penyanyi harus mampu meredam suasana demikian” ujar Rini selaku penyanyi Grup Orkes Melayu Gema Irama.

Akan tetapi sejauh perjalanan karir Grup Orkes Melayu Gema Irama dapat kita ambi nilai Studi Literatur (Sastra) yaitu, penyanyi menympaikan pesan kepada penonton sebelum memulai aksinya yakni dengan berbahsa yang santun hingga dalam konser pada sabtu malam tepatnya di Jl. Tgh. Lopan Labuapi Desa Bagik Polak Selatan berlangsung damai hingga selesai.




Analis by Yulii Siswanti.