ILMU KALAM
Al-ASY'ARI
Berbicara
tentang Ulama Kalam Ahlussunnah Waljama'ah, tak terlepas dari nama
besar tokoh pendirinya. Dialah al-Asy'ari disamping juga al-Maturidi.
Mengingat dia sebagai tokoh pendiri (mu'assis), maka berbicara tentang
biografi dan garis besar pemikan kalamnya, terasa kurang utuh jika tidak
dilengkapi dengan latar belakang dicetuskannya aliran yang didirikan,
perkembangannya, dan corak pemikiran kalamnya.
Oleh karena itu, maka biografi dan garis besar pemikiran kalam al-Asy'ari tersebut perlu dipelajari dengan kerangka:
a. Biografi;
b. Dicetuskannya aliran kalam Sunni;
c. Perkembangan aliran kalam al-Asy'ariyah;
d. Corak pemikiran kalam al-Asy'ari, dan materi;
e. Pemikiran kalam al-Asy'ari.
Dengan
kerangka pembicaraan yang demikian, maka akan memberikan kepahaman yang
lebih jelas dan utuh tentang biografi serta ketokohan al-Asy'ari
dibidang kalam.
A. BIOGRAFI
Biografi al-Asy'ari, dapat ditelusuri dari nama dan geneologinya, tempat dan masa hidup, serta guru dan murid muridnya.
1. Nama dan Geneologi
Nama
lengkap tokoh yang satu ini, secara otentik dapat dibaca dalam salah
satu karyanya yang berjudul: Al-Ibanah 'an Usul al-Diyanah. Pada halaman
pertamanya tertulis nama lengkapnya: "Abu al-Hasan 'Ali bin Ismail bin
Ishaq bin 'Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa
al-Asy'ari".
Nama lengkap yang amat panjang ini, kemudian biasa
diringkas menjadi "Abu al-Hasan al-Asy'ari". Atau bahkan lebih sering
diambil nama nisbatnya saja, yakni "Al-Asy'ari".
Memperhatikan
nama lengkapnya yang panjang itu, yang notabene menyebutkan nama nama
garis keturunan (geneologi) al-Asy'ari secara urut ke atas; maka tampak
dengan jelas bahwa geneologinya bermuara pada seorang sahabat Nabi
kenamaan, yakni Abu Musa al-Asy'ari.
Abu Musa al-Asy'ari pada
masanya pernah terpilih mewakili kubu Ali bin Abi Thalib dalam sejarah
'tahkim' dengan kubu Mu'awiyah yang diwakili oleh Amr bin al-As.
Geneologi
yang demikian, menunjukkan bahwa al-Asy'ari masih tergolong berdarah
tokoh ternama. Dan sedikit banyaknya tentu memberi pengaruh tersendiri
akan kebesaran namanya.
2. Tempat dan Masa Hidup
Tempat
lahir dan hidup al-Asy'ari ialah sebuah kota pusat keramaian dan pusat
peradaban Islam kedua setelah Baghdad, yakni Basrah. Maka letak
geografis kediamannya ini pun memberikan pengarug yang tidak kecil bagi
cepatnya perkembangan aliran kalamnya serta popularitas nama besarnya.
Adapun masa hidupnya, al-Asy'ari terlahir pada tahun 260H (873H) dan
wafat pada tahun 324H (935H). Berarti dia hidup di dunia selama 64 tahun
Qomariyah/hijriyah atau selama 62 tahun Syamsiyah/Masehi.
Masa
hidup itu berarti dewasanya al-Asy'ari bertepatan dengan masa
pemerintahan akhir al-Makmun dan awal pemerintahan al-Mutawakkil dari
Daulah Abasiyah. Hal ini pun memiliki pengaruh yang tidak kecil terhadap
eksistensi ketokohan al-Asy'ari. Karena al-Mutawakkil yang memberi
penghormatan besar kepada Ahmad bin Hanbal dan membatalkan Mu'tazilah
sebagai aliran resmi pemerintah, praktis memberi angin segar terhadap
aliran kalam yang dilahirkan oleh al-Asy'ari.
3. Guru dan Murid
Kehidupan
al-Asy'ari kecil tidak seberuntung masa kanak-kanak pada umumnya.
Karena sejak kecil dia telah ditinggalkan oleh ayah kandungnya, Ismail.
Dan ibunya kemudian dipersunting oleh Abu Ali al-Juba'i, seorang tokoh
kenamaan aliran kalam Mu'tazilah. Maka dalam pelukan ayah tiri inilah
al-Asy'ari dididik dan dibesarkan.
Dalam perkembangan selanjutnya,
al-Juba'i yang notabene Mu'tazilah itu tidak hanya berperan sebagai
ayah tiri tetapi juga sebagai guru utama al-Asy'ari hingga dewasanya.
Bahkan al-Asy'ari yang terlahir sebagai pemuda cerdas dan mahir beradu
argumentasi itu pun pada gilirannya menjadi penganut setia Mu'tazilah
sekaligus ditokohkan.
Dia tidak hanya dipercaya al-Juba'i untuk
mewakilinya dalam banyak hal urusan kemu'tazilahan, melainkan juga tidak
sedikit dari umurnya dicurahkan pula untuk menulis buku-buku
kemu'tazilahan.
Namun kemudian al-Asy'ari berdiri sendiri dengan
aliran kalam yang dicetuskannya sendiri dan menjadi guru bagi banyak
orang. Diantara murid-muridnya yang akhirnya menjadi tokoh ternama,
tercatat: Abu Ishaq al-Isyfirayani, Abu Bakar al-Qafal, al-Jurjani,
Muhammad al-Tabarani al-'Iraqi dan lain lain.
B. DICETUSKANNYA ALIRAN KALAM SUNNI
Pencetusan
(pendiriannya) aliran kalam Sunni (kalam Ahlussunnah Waljamaah) oleh
al-Asy'ari, tidak lepas dari beberapa hal yang melatarbelakanginya,
ditulisnya karya-karya pendukung aliran yang dicetuskan, serta munculnya
tokoh-tokoh penganut yang menyebarluaskan aliran kalamnya.
1. Latar Belakang
Menurut
keterangan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa ketokohan al-Asy'ari
dalam aliran kalam Mu'tazilah ternyata sangat terbatas. Hanya sekitar 40
tahun saja dia berkiprah dibidang kemu'tazilahan. Dan akhirnya berbalik
180 derajat, menolak serta menyerang aliran Mu'tazilah.
Bersamaan
dengan itu, al-Asy'ari mencetuskan aliran kalam baru, yakni aliran
kalam Sunni (Ahlussunnah Waljamaah) yang kemudian oleh para pengikutnya
disebut aliran kalam al Asy'ariyah.
Adapun berbagai hal yang
melatarbelakangi dicetuskannya aliran kalam Sunni itu, para ulama
memberikan keterang yang relatif berbeda antara yang satu dengan yamg
lain diantaranya:
a. Ahmad Amin
Dalam bukunya: Zuhr
al-Islam, dia menerangkan bahwa latar belakang keluarnya al-Asy'ari dan
Mu'tazilah dan mendirikan aliran baru ialah adanya adu argumen antara
al-Asy'ari dengan gurunya al-Juba'i tentang kedudukan anak kecil di
akhirat, sampai akhirnya al-Juba'i tidak bisa memberikan argumen.
Dari
perdebatan itu, maka al-Asy'ari menjadi ragu terhadap ajaran
Mu'tazilah. Kemudian dia melakukan kajian mendalam tentangnya, dan hasil
kajiannya yang berupa kajian korektif terhadap ajaran Mu'tazilah itu
diproklamirkan di hadapan khalayak.
Adapun proklamasi itu (kurang
lebih) berbunyi: "Wahai saudara saudaraku! Selama ini saya, mengurung
diri untuk mengkaji keterangan keterangan dan dalil dalil dari banyak
golongan. Menurut hasil kajian saya, dalil dalil itu sama kuatnya. Maka
saya memohon petunjuk kepada Allah SWT. Dan atas petunjukNya, saya kini
menyatakan keluar dari aliran kalam yang selama ini saya ikuti, kemudian
mengikuti aliran kalam baru yang telah saya siapkan dalam buku buku
ini. Saya lemparkan jauh jauh aliran yang lama, sebagaimana saya
lemparkan bajuku ini! (bersamaan dengan mengucapkan kalimat ini,
al-Asy'ari betul betul melemparkan bajunya dengan lemparan sekuat
tenaga)".
b. Jalal Muhammad Musa
Dalam bukunya
Nasy'ah al-Asy'ariyah wa Tatawwuriha, dia menerangkan dari riwayat Ibnu
'Asakir, bahwasannya al-Asy'ari melakukan Shalat Malam dua raka'at
selama beberapa malam untuk memohon petunjuk. Dan dalam tidurnya, dia
bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. serta mengadukan persoalannya,
maka Rasul menjawab: "Hendaklah kamu mengamalkan Sunnahku!".
Semenjak
kejadian itu, maka al-Asy'ari kembali berpegang teguh kepada al-Quran
dan al-Sunnah. Pemikiran pemikiran kalam yang tidak sesuai dengan
keduanya, dia hindarkan jauh-jauh.
c. Ahmad Mahmud Subki
Sebagaimana
disebutkan Harun Nasution dalam bukunya "Teologi Islam", Ahmad Mahmud
Subki menerangkan tentang keraguan al-Asy'ari itu timbul karena dia
menganut madzhab Syafi'i dibidang fiqih. Padahal al-Syafi'i pun banyak
mengemukakan pendapatnya yang bersifat kalam (teologis) yang
bertentangan dengan kalam Mu'tazilah. Misalnya berpendapat bahwa
al-Qur'an bersifat qadim dan ru'yah (melihat Tuhan) di akhirat bakal
terjadi benar benar.
d. Ahmad Hanafi
Dalam
bukunya Pengantar Teologi Islam Ahmad Hanafi menerangkan bahwa sebab
utama keluarnya al-Asy'ari dari paham Mu'tazilah ialah karena
mengkhawatirkan semakin pecahnya persatuan Islam oleh munculnya paham
Mu'tazilah yang terlalu memuja akal dan menyimpang dari petunjuk
al-Quran serta al-Sunnah di satu pihak, dan munculnya sikap ahli hadits
anthropomorphisme yang memahami nash secara tekstual dengan meninggalkan
jiwa nash itu sendiri. Maka al-Asy'ari mengambil jalan tengah antara
golongan rasional (Mu'tazilah) dengan golongan anthropomorphisme itu
yang ternyata diterima oleh mayoritas kaum muslimin.
e. Harun Nasution
Dalam
bukunya "Teologi Islam", Prof. Dr. Harun Nasution menerangkan bahwa
al-Asy'ari keluar dari Mu'tazilah karena melihat perpecahan dikalangan
Mu'tazilah sendiri serta dibatalkannya putusan Khalifah al-Makmun oleh
al-Mutawakkil tentang diterimanya aliran Mu'tazilah sebagai aliran resmi
negara. Maka al-Asy'ari menyusun aliran kalam tersendiri yang tetap
mempedomani al-Quran dan al-Sunnah.
Berdasarkan
keterangan para ulama tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa al-Asy'ari
mencetuskan aliran kalam Sunni demi mengembalikan umat kepada petunjuk
al-Quran dan al-Sunnah yang memang dipedomani oleh mayoritas umat Islam
kala itu. Selain itu, berarti dia memandang bahwa kaum Mu'tazilah dan
ahli hadits anthropomorphis sebagai sekte-sekte baru yang menyimpang
dari spirit Islam.
Perlu
dikemukakan disini, bahwa adu argumen al-Asy'ari dengan al-Juba'i yang
dikemukakan Ahmad Amin tentang Kedudukan anak kecil di akhirat, dalam
bukunya Zuhr al-Islam halaman 67, (kurang lebih) sebagai berikut :
Al-Asy'ari : " Bagaimana pendapat guru tentang nasib orang kafir, dan bayi, kelak pada hari kiamat?"
Al-Juba'i : " Orang mukmin adalah orang beruntung, orang kafir adalah celaka, dan bayi termasuk golongan yang selamat ".
Al-Asy'ari : " Mungkinkah bayi masuk golongan beruntung?"
Al-Juba'i
: " Tidak! Sebab kelak akan dikatakan kepada bayi, bahwa simukmin
beruntung karena ketaatannya, sedangkan bayi belum bertaat".
Al-Asy'ari
: " Sekiranya si bayi menjawab bahwa kematiannya sejak bayi bukan
karena kesalahan dirinya, sebab jika Allah memberikan umur panjang
hingga dewasa, dia juga akan bertaat (beribadah) seperti orang orang
mukmin?"
Al-Juba'i : " Allah nanti akan berfirman
kepada si bayi: Aku tahu jika kamu berumur panjang akan berbuat dosa dan
harus disiksa. Maka demi kemaslahatanmu, Kumatikan kamu sebelum
dewasa!"
Al-Asy'ari : " Kalau si kafir menggugat seraya
mengadu: Ya Tuhan, Engkau mengetahui keberadaanku seperti bayi itu,
mengapa Engkau tidak menjaga kemaslahatanku sehingga aku berumur panjang
serta berbuat dosa hingga kini disiksa?"
Dengan
pertanyaan itu, al-Juba'i terdiam. Ini menunjukkan kesalahan ajarannya
(ajaran Mu'tazilah) yang menyatakan bahwa Tuhan wajib berbuat baik,
bahkan terbaik bagi manusia (wajib memberi maslahat kepada manusia).
Sementara menurut ajaran al-Asy'ari, tidak wajib.
Berkenaan
dengan doktrin Mu'tazilah yang menyatakan Tuhan tidak memiliki sifat,
ada di antara murid al-Juba'i yang bertanya: " Guru, bolehkah Allah
disebut 'Aqil (berakal)' ?"
Al-Juba'i : "Tidak. Sebab kata (aql) berasal dari kata (iql) yang berarti penghalang. Padahal Allah mustahil berpenghalang".
Al-Asy'ari
menyahut : " Berdasarkan kias guru itu, berarti Allah juga tidak boleh
disebut 'Hakim (bijaksana)'? Sebab, kata 'hakim' itu berasal dari kata
'hikmah al-lijam (besi kekang binatang)'?"
Al-Juba'i : diam tidak menjawab
Al-Asy'ari : "Jadi bagaimana pendapat guru?", desaknya.
Al-Juba'i
: " Saya setuju Allah disebut Hakim, karena saya mengambil nama-nama
Allah itu berdasarkan keterangan Syara', bukan berdasarkan kias. Maka
saya tidak setuju Dia disebut Aqil karena Syara, melarangnya".
Sementara
itu, banyak pula keterangan yang menyatakan bahwa al-Asy'ari ketika
keraguannya terhadap ajaran Mu'tazilah sampai pada titik klimaks, maka
dia mengasingkan diri selama 15 hari untuk bertafakkur dan memohon
petunjuk Allah. Disamping juga mengkaji ulang ajaran Mu'tazilah itu
dengan konsentrasi penuh.

2. Karya-karya al-Asy'ari
Sebagai
pendukung aliran baru (Sunni) yang dicetuskannya, al-Asy'ari banyak
menulis pemikiran-pemikiran kalamnya itu dalam berbagai kitab karyanya.
Menurut beberapa sumber menyatakan, bahwa karya al-Asy'ari itu tidak
kurang dari 90 judul kitab. Isinya sebagian besar menyangkut pemikiran
kalamnya yang berpaham Sunni sekaligus merupakan penolakan terhadap
berbagai aliran yang tidak sepaham.
Al-Asy'ari dengan tegas
menolak paham materialis di satu pihak dan paham anthropomorphis di
pihak lain; menolak paham Khwarij di satu sisi dan di sisi yang lain
juga menolak paham Syi'ah. Di sisi yang lain lagi, dia menolak paham
al-Juba'i, al-Allaf, dan sejenisnya serta pikiran filosofis yang
berlebihan termasuk pikiran Aristoteles.
Diantara sekian judul karya al-Asy'ari yang sampai kepada kita ialah :
a. Al-Ibanah 'an Usul al-Diyanah
Dalam
kitab ini, al-Asy'ari memaparkan berbagai hal pokok keagamaan yang
didasarkan pada pemikiran kalamnya dan kemudian menjadi acuan bagi kaum
Sunni.
b. Al-Luma'
Kitab ini lebih menyoroti
argumen argumen lawan atau aliran kalam yang dianggapnya tidak benar,
dan memberikan dalil dalil naql (al-Quran dan al-Sunnah) serta argumen
akal yang relevan.
c. Maqalat al-Islamiyin wa Ikhtilaf al-Mutakallimin
Pokok-pokok
kitab ini menguraikan tentang bermacam macam golongan Islam beserta
pendapat masing masing dan lebih merupakan kajian comparative
(perbandingan). Sehingga terlihat jelas di posisi mana kelompok
Ahlussunah Waljamaah berada.
Itulah ketiga karya monumental al-Asy'ari yang kemudian banyak dijadikan sebagai sumber rujukan bagi kaum Sunni.

3. Para Tokoh Pengikut
Umat
Islam yang pada dasarnya mayoritas berpaham Ahlussunnah Waljamaah
(Sunni), maka dengan dicetuskannya kalam Sunni oleh al-Asy'ari, mereka
praktis menerimanya dengan senang hati. Dan tidaklah aneh jika aliran
kalam yang kemudian sering disebut aliran al-Asy'ariyah itu segera
menyebar ke berbagai penjuru.
Hal itu terbukti dengan munculnya
tokoh-tokoh besar di berbagai penjuru yang giat menyebarluaskan aliran
al-Asy'ariyah. Seperti tercatat nama besar al-Ghazali di Tus (Khurasan),
al-Juwaini di Nisapur (Khurasan), dan al-Baqillani yang lahir di Basrah
namun banyak berdomisili di Baghdad (Selanjutnya, ketiga tokoh pengikut
al-Asy'ari ini akan dibicarakan dalam Bab-bab tersendiri).
C. PERKEMBANGAN ALIRAN KALAM AL ASY'ARIYAH
Selain
dukungan para murid dan tokoh pengikut, pesatnya perkembangan aliran
kalam al-Asy'ariyah tidak lepas dari dukungan umat, dukungan politik
dalam negeri, dan juga politisi serta para Ulama Asy'ariyah yang giat
menyebarluaskan pemikiran kalamnya.
1. Dukungan Umat
Umat
Islam kala itu, tampak antusias menerima aliran kalam al-Asy'ariyah
yang disebut-sebut sebagai aliran kalam Ahlussunnah Waljamaah, karena
ajarannya tetap mengikuti petunjuk naql (al-Quran dan al-Hadits). Akal
justru digunakan sebatas untuk memahami petunjuk naql, bukan memuja
keberadaan akal atau sebaliknya.
Sehingga wajarlah bila aliran
kalam yang dicetuskan al-Asy'ari cepat berkembang dengan pesat. Mulai
dari Andalusi (Spanyol) di Barat sampai di India di Timur, bahkan sampai
ke Asia Tenggara termasuk Indonesia, menerima aliran tersebut dengan
tangan terbuka.
Ditanah Air kita, bahkan sampai kini
masih sangat terasa Mayoritas umat Islam di negeri kita, terasa lebih
terwarnai oleh pemikiran kalam al-Asy'ariyah, meski telah disusupi
nuansa-nuansa sufistik oleh para penyebarnya. Sikap sebagian
masyarakatnya yang cenderung pasrah (fatalisme) dan banyak beredarnya
kitab-kitab karya Asy'ariyah (para ulama pengikut al-Asy'ari), adalah
bukti nyata yang relatif tak terbantahkan.
Kitab-kitab dimaksud,
antara lain: ihya 'Ulum al-Din dan al-Munqiz min al-Dalal karya
al-Ghazali, Umm al-Barahin karya al-Sanusiyah atau disebut juga Risalah
al-Sanusiyah, dan kitab-kitab sejenisnya.
Selain itu,
doktrin kalam Asy'ariyah, seperti yang kita kenal dengan "Sifat 20" atau
"Aqa'id 50"; pun banyak dibelajarkan, baik di lembaga lembaga
pendidikan formal, non formal maupun informal.
Itulah bukti
berkembangluasnya aliran kalam al-Asy'ariyah yang benar-benar mendapat
dukungan positif dari umat Islam mayoritas, tak terkecuali umat Islam
mayoritas di Tanah Air kita.
2. Dukungan Politik Dalam Negeri
Dukungan
politik dalam negeri dimana al-Asy'ari berdomisili, memang mengalami
pasang-surut. Namun secara umum dapat dikatakan sangat berperan dalam
ikut serta mengembangkan ajaran al-Asy'ari.
Pada awal
dicetuskannya aliran al-Asy'ariyah, secara kebetulan tampuk pemerintahan
yang dikendalikan oleh al-Mutawakkil (pengganti al-Makmun) secara resmi
negara. Sebaliknya, dia memberi penghormatan kepada Ahmad bin Hanbal.
Maka secara tidak langsung, aliran al-Asy'ariyah mendapat angin segar
untuk tumbuh dan berkembang.
Namun pada masa pemerintahan dikuasai
oleh Sultan Tugril dari Bani Saljuk, dengan al-Kunduri sebagai perdana
menterinya yang beraliran Mu'tazilah; politik dalam negeri praktis
sangat tidak mendukung perkembangan aliran al-Asy'ariyah. Sebaliknya,
justru banyak melakukan kekejaman terhadap para tokoh Asy'ariyah.
Atas
usulan al-Kunduri, Sultan Tugril memberi perintah resmi untuk menangkap
para pemuka aliran al-Asy'ariyah. Diantara mereka yang berhasil
ditangkap dan dipenjarakan, tercatat nama Abu Qasim al-Qusyairi dan
al-Haramain. Dan tidak sedikit dari mereka yang melarikan diri ke Hijaz.
facebook : Saeful Huna
twitter : Saeful Huna/@Ipunk_Sasaqi
youtube : Saeful Huna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar